Jumat, 01 Juni 2012

Bahasa Orang Jawa


Salah satu topik yang dibahas oleh Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul ‘Kebudayaan Jawa’ adalah tentang Bahasa Orang Jawa. Beberapa poin yang disampaikan Koentjaraningrat dalam bagian ini mengenai bahasa orang Jawa yang masih relevan bagi sebagian masyarakat Jawa. Akan tetapi, dari tulisaan ini sedikitnya ada beberapa poin mengenai bahasa orang Jawa yang tidak sesuai dengan konteks kekinian masyarakat Jawa. Sebagai pembanding, di sini saya akan mengkaitkan apa yang disampaikan Koentjaraningrat ini dengan kondisi yang terjadi pada masyarakat Jawa di Dusun Babadan Baru, kecamatan Depok, Kabupaten Sleman Yogyakarta.
Sekitar 90% Masyarakat Babadan Baru merupakan orang Jawa asli yang mempunyai sejarah panjang hingga mengantarkannya ke wilayah Babadan Baru yang sekarang ini di Barat Jalan Kaliurang km 7. Masyarakat Babadan Baru adalah masyarakat yang berpindah dari Babadan lama di Gedong Kuning  dikarenakan akan digunakan sebagai gudang peluru dari penjajah Jepang. Babadan lama merupakan  salah satu ‘pathok negoro’ dari Keraton Mataram. Pathok negoro lainnya terdapat di Ploso Kuning, Mlangi, Wonokromo, Dongkelan. Pathok negoro adalah daerah yang dipercaya oleh Keraton sebagai daerah yang digunakan untuk syiar agama Islam. Sebagian besar masyarakat Babadan lama memiliki hubungan kedekatan dengan Keraton karena masyarakatnya mengabdi kepada Keraton sebagai kaum dan abdi dalem. Dalam percakapan sehari-hari pada masa itu menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan tingkat penggunaan. Sistem ini menyangkut perbedaan-perbedaan yang wajib digunakan, mengingat perbedaan kedudukan, pangkat, umur, serta tingkat keakraban antara yang menyapa dan disapa. Perkembangan penggunaan bahasa Jawa kini di Babadan baru tidak lepas dari sejarahnya ketika di Babadan lama. Semakin berkembangnya zaman akibat faktor lingkungan, penggunaannya kini semakin pudar.
Poin pertama, Koentjaraningrat menuliskan bahwa Bahasa Jawa masa kini, adalah bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dalam masyarakat orang Jawa dan dalam buku-buku serta surat-surat kabar berbahasa Jawa. (halaman 18, poin ke 6). Hal ini tidak sesuai dengan kondisi di Babadan Baru. Buku-buku dan surat-surat kabar yang biasa dibaca oleh masyarakat Babadan Baru, semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dalam 3 generasi memiliki gaya bahasanya masing-masing. Pada generasi orang tua (diatas 40 tahun) masih menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan tingkatan dasar (ngoko, madya, krami) yang harus digunakan. Bahasa Jawa ngoko ketika percakapan sehari-hari dengan orang usia sepantaran, anak ataupun orang yang lebih muda dan sudah dikenal secara akrab. Madya digunakan ketika percakapan dengan orang yang lebih tua umurnya namun jarak umurnya tidak terlalu jauh atau digunakan untuk percakapan dengan orang yang baru dikenal namun usianya sebaya. Sedangkan krami di gunakan untuk percakapan dengan orang yang lebih tua ‘sepuh’ umurnya ataupun kedudukannya. Pada generasi anak (sekitar umur 15-40 tahun), mereka masih menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Namun sudah tidak menggunakan tingkatan bahasa yag baku, bahasa Jawa yang digunakan umumnya ngoko ataupun campuran (ngoko-madya atau ngoko-krami). Kebanyakan masyarakat Babadan baru ketika berkomunikasi dengan orang sebaya menggunakan bahasa ngoko. Bahasa krami lebih sering digunakan untuk percakapan dengan orang yang lebih tua namun tidak terlalu akrab ataupun orang baru, namun sring disipi bahasa madya atau ngoko. Penggunaan bahasa Jawa madya sering digunakan saat berkomunikasi dengan orang tua, sering juga disiipi dengan bahasa ngoko sehingga menjadi bahasa campuran (ngoko dan madaya). Banyak keluarga di babadan baru menggunakan bahasa ngoko ketika berkomunikasi dengan orang tua, bahkan tidak segan lagi menyebut orang tua dengan sebutan ‘kowe’. Ketidak tahuan dan minimnya pengetahuan bahasa Jawa, membuat semuanya menjadi salah kaprah. Berbeda dengan generasi ke 3 yang tergolong cucu (dibawah 15 tahun) lebih banyak menggunakan bahasa campuran, antara bahasa Jawa Ngoko dan bahasa Indonesia. Percakapan sehari-hari di keluarga, pertemanan maupun di lingkungan masyarakat sering menggunakan kedua bahasa tersebut, namun porsi penggunaan bahasa Indonesia lebih sering.
Poin kedua, dituliskan oleh Koentjaraningrat bahwa orang Jawa sekarang menggunakan huruf Latin, dan kebanyakat tulisan dalam bahasa Jawa sekarang memang diterbitkan dengan menggunakan huruf Latin, walaupun ada juga buku-buku dan beberapa majalah serta surat kabar yang masih terbit dalam huruf Jawa (halaman 20, paragraf 3). Memang benar semua orang Jawa sekarang menggunakan huruf Latin spada massa sekarang, termasuk masyarakat babadan Baru. Namun huruf Latin yang dituliskan dengan menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa yang ditulis Latin. Karena pada ummnya sekarang buku dan surat kabar diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Kalaupun ada,  buku yang diterbitkan dalam bahasa Jawa adalah buku paket pelajaran bahasa Jawa yang digunakan di sekolah-sekolah atau majalah khusus berbahasa Jawa ‘Joko Lodhang’ yang populer di kalangan warga Babadan Baru, Walaupun populer karena satu-satunya majalah berbahasa Jawa yang masih mudah ditemukan, namun majalah itu sangat jarang dikonsumsi untuk dibaca.
Poin ketiga, menanggapi pernyataan Koentjaraningrat tentang bahasa Jawa yang dipergunakan sebagai bahasa pergaulan abad ke-20, ditandai oleh suatu sistem tingkat-tingkat yang rumit, terdiri paling sedikit dari Sembilan gaya bahasa (halaman 21, paragraf 2). Hal ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang, bagi sebagian besar masyarakat Babadan Baru sudah tidak mengenal tingkat-tingkat yang rumit dari Sembilan gaya bahasa tersebut, sehingga sudah tidak digunakan pada generasi sekarang. Faktor lingkungan yang heterogen disekitar Babadan Baru dan adanya pendatang membuat masyarakat meninggalkan tingkatan tersebut untuk kepraktisan berkomunikasi. Gaya bahasa yang ada di babadan Baru sekarang ini hanya tinggal 3 gaya bahasa dasar yaitu: ngoko, madya, krami. Penggunaanya pun sudah tidak sesuai pakem yang ada dan sudah bercampur antara gaya bahasa yang satu dengan yang lain.
Poin keempat, pendapat Koentjaraningrat tentang adat sopan santun Jawa yang menuntut penggunaan gaya bahasa yang tepat, tergantung dari tipe interaksi tertentu, memaksa orang untuk terlebih dahulu menentukan setepat mungkin kedudukan orang yang diajak berbicara dalam hubungan dengan kedudukannya sendiri. Pendapat ini sedikit tidak relevan, walaupun memang masih ada yang menjalankan namun sebagian besar sudah melupakan penggunaan gaya bahasa ini terutama kalangan generasi muda. Peraturan ini sudah semakin lunak bagi masyarakat Babadan Baru ketika generasi muda terkadang menggunakan bahasa campuran (krami-ngoko ataupun madya-ngoko) kepada orang yang lebih tua bahkan menggunakan gaya bahasa ngoko dalam percakapan dengan orang tua sehari-hari. Orang tua sudah semakin lunak akan aturan ini, tidak meluruskan namun tetap dibiarkan bercampur dan salah kaprah dalam menggunakan gaya bahasa krami maupun madya.
Poin kelima, pernyataan yang disampaikan Koentjaraningrat bahwa Logat Solo-Yogya juga dianggap sebagai “bahasa Jawa yang beradab”. Anggapan ini dipatahkan dengan fenomena saat ini. Bagi masyarakat Babadan Baru yang sering berinteraksi dengan orang dari berbagai daerah, logat bahasa Jawa yang kental atau lebih sering disebut ‘medhok’ menjadi ejekan bagi orang lain. Terkadang penggunaan bahasa Jawa di ruang publik sangat jarang digunakan oleh masyarakat Babadan terutama di kalangan generasi muda karena akan dianggap ‘ndeso’ bagi kalangan tertentu.

Kesimpulan
Penggunaan bahasa Jawa di masyarakat Jawa sudah semakin luntur. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan, adanya pendatang dan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang digunakan sebagai bahasa resmi sehari-hari dalam aktifitas sekolah maupun perkantoran. Hal tersebut semakin mengurangi penggunaan bahasa Jawa untuk percakapan sehari-hari. Anggapan-anggapan medhok, ndeso, ketinggalan zaman membuat bahasa Jawa semakin ditinggalkan oleh generasi muda dan tergantikan oleh bahasa Indonesia. Faktor lingkungan dan peran media yang selalu menggunakan bahasa Indonesia, menjadikan bahasa Jawa semakin luntur dan ditinggalkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar